Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ustadzah Alisha



Ngocoks “Asal Ustadzah tau, Timun bisa digunakan untuk hal lain, selain dimakan.” Kalimat Darto itu membikin Ustadzah Alisha menggeleng-geleng. Bisa-bisanya pemuda itu bercanda vulgar kepada sosok Ustadzah sepertinya. Ia tengah berbelanja di pasar, Ustadzah Alisha itu.

Sebelumnya ia bertemu Darto ketika memesan satu galon isi ulang. Setelah berbelanja. Kemudian ia membereskan rumah. Dan sebagai Ustadzah Kondang, tentu ia kerap mengisi Pengajian di waktu sore. Rutin di Masjid Al-Nurul.

Pagi itu, di Ruang tamu, Ustadzah Alisha sedang bermain Lego bersama Si Kecil Nana.

“Umi gak bisa main.” Si kecil Nana merengek sambil memasang wajah sebal. “Bukan begitu, Umi,” katanya lagi sambil memasang lego ke tempat yang benar. “Ini. Begini.”

Ustadzah Alisha mengangguk-angguk. Kemudian menata Lego dengan benar, sebelum suara ketukan pintu membuatnya segera bangkit. Ketika pintu terbuka, dilihatnya Darto dengan senyum khas tengah menggendong satu galon.

Segera Ustadzah Alisha minggir dan mempersilahkan pemuda berusia 24 tahun itu menaruh galon ke asalnya, sementara Ustadzah Alisha kembali bermain dengan Si Kecil Nana.

Di tengah kesibukan itu, Darto muncul dan meminta Izin untuk ke kamar mandi. Sejenak Ustadzah Alisha tampak gusar. Ia sudah mengenal Darto sebagaimana Warga lain. Darto itu suka bercanda Cabul. Suka menggoda perempuan. Merasa tidak enak sebab melihat Darto tak tahan menahan kencing, akhirnya Ustadzah Alisha menunjuk satu arah di samping Dapur. Lekas pemuda itu ke sana.

Selang sepuluh menit, pemuda itu keluar, dan berterima kasih kepadanya. Sebelum pergi Darto berkata singkat: “Bagaimana, Ustadzah? Timunnya sudah dibeli?”


Ustadzah Alisha enggan betul meladeni pemuda itu. Maka ia sibuk dengan si kecil Nana. Sedang Darto malah ikut duduk di lantai, di antara ibu dan anak itu. Membuat Ustadzah Alisha lekas berpindah ke sofa.

Darto Sekonyong mengambil alih susunan lego, dan kepada Si Kecil Nana ia ajarkan cara menata lego yang benar. Si kecil tampaknya girang, mencoba melakukan apa yang dilakukan Darto.

Sementara Ustadzah Alisha bergeming dalam duduknya. Memegang erat Gamisnya. Merasa takut. Tetapi kemudian Tukang Galon itu pergi tak lama, berpamitan dengan cengir khasnya. Membuat Ustadzah Alisha bisa bernafas lega.

Ia sungguh tak perlu takut. Bukan setahun-dua tahun ia kenal Darto. Melainkan sudah lama jauh. Sebab di kampung Damai—kampung kecil—semuanya tampak saling mengenal satu sama lain, akrab, sebagaimana bunyi beduk lima kali dalam sehari.

Tak seharusnya membuat takut. Tetapi begitulah pertahanan dirinya. Ia sarjana`pendidikan islam. Menghafal Quran dalam bentuk paling dalam. Sungguh dalam kaidah-kaidah pembelajaran, ia mengenal baik seluk-beluk.

Sebab hal itu membuatnya menjaga dirinya. Seorang Hamba adalah Milik-Nya, dan dengan-Nya, ia berserah, demikian ia selalu membentengi dirinya akan hal-hal bersifat duniawi.

Sore itu Ustadzah Alisha bercerama di Masjid Al-Nurul. Dihadiri oleh berbagai jenis kalangan perempuan. Beberapa ada yang yang lebih muda. Duduk takzim di lantai Masjid. Mendengar eloknya suara penceramah. Yang selalu tersenyum.

Dan aduhai ketika ia melantunkan dalil-dalil untuk membentengi segala hal dari kemungkaran. Tingkahnya ketika membenarkan gamisnya, dan juga bola matanya yang besar itu, sungguh sejalur dengan keilmuan yang ia punya. Cantik. Dan nyaris sempurna.

Sehabis pengajian, para jamaah mengerumuninya. Bertanya-tanya perihal agama. Beberapa menceritakan masalah pribadi tentang rumah tangga. Juga sedikit konyol salah satu jamaah bertanya:

“Ustadzah. Saya akhir-akhir ini merasa diri saya diguna-guna.”

Ustadzah Alisha dengan senang hati menanggapi. Menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Sehingga para jemaah merasa terpuaskan. Dan merasa beruntung memiliki seorang perempuan alim di kampung ini.

Mereka bahkan dengan terang-terangan memuji Ustadzah Alisha dengan mengatakan bahwa ia ahli surga. Meskipun Ustadzah Alisha tidak ingin pongah. Itu tingkah setan. Pongah itu.

Demikian setiap sore selalu begitu. Kemudian bersama Si Kecil Nana—sekali waktu ia mengajak si kecil menemaninya—yang raut wajahnya suntuk, pulang. Di perjalanan pulang, beberapa`warga menyapa. Kadang-kadang ia berhenti sejenak, untuk mendengar keluh pertanyaan dari ibu-ibu berdaster—membuat Si kecil merajuk–lalu melanjutkan kembali perjalanan.

Sampai di rumah Ustadzah Alisha lekas menuju dapur. Itu sudah pukul lima sore. Hendak ia menyiapkan makanan untuk suaminya. Maka ia memasak. Membuka kulkas dan menggoreng ayam. Si Kecil ia biarkan di meja makan bermain sendirian, sambil dirinya menata lauk pauk di atas meja.


Ia tutup agar lalat tak masuk. Kemudian menggendong si kecil untu bermain di ruang tamu sambil menunggu kepulangan lelaki satu-satunya di rumah itu.

Sambil memperhatikan si kecil, Ustadzah Alisha sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan WhatsApp dari ibu-ibu dan beberapa kenalannya. Untuk sejenak ia melihat pesan dari nomor tidak dikenal, mengirim sebuah kalimat yang membuatnya kembali menggeleng-geleng. Adalah Darto si pengirim.

***​

Meja makan tampak lengang, menghadirkan bunyi denting sendok dan piring, cecap mulut mengunyah makan.

“Selesaikan dulu makannya, Abi. ” Ustadzah Alisha memperhatikan suaminya sedari tadi, yang terlampau sibuk dengan`ponsel. Membuat suasana meja makan menjadi muram. “Kan bisa nanti balas pesannya.”

“Iya Umi, Iya.” Jawab suaminya sambil menaruh ponsel.

Suaminya bernama Farhan. Bekerja di penerbitan membuatnya terlampau sibuk. Setiap hari diberondong pesan oleh atasan-atasannya perihal tenggat waktu. Membuatnya kadang-kadang susah untuk membedakan waktu kerja dan bersantai. Sehingga kerap ia mendapati istrinya mengomel.

Selepas makan malam biasanya sekeluarga itu berkumpul di ruang tamu. Menghabiskan jatah malam sebelum tidur untuk keharmonisan keluarga Tetapi Farhan minta izin untuk tidur lebih dulu. Katanya ia terlampau lelah, dan kepalanya penuh oleh raung-raung tak berkesudahan.

Maka Ustadzah Alisha disibukan mengurus Si Kecil yang baru Masuk Sekolah Dasar itu. Menemaninya bermain lego-lego. Keping-kepingannya berserak di mana-mana. Sementara Si Kecil bermain, Ustadzah Alisha kembali sibuk dengan ponselnya.

Membalas pesan perihal ceramahnya yang akan diadakan dua hari lagi. Juga`beberapa tawaran mengisi ceramah di Kampung sebelah, yang ditolaknya dengan sangat sopan. Sebab jadwalnya`mengisi ceramah penuh minggu-minggu ini.

Kemudian, pesan nomor tak dikenal masuk lagi. Darto menyapa singkat: Selamat malam. Untuk kesekian kali Ustadzah Alisha mendengus, kembali menggeser layar ponsel. Membalas yang penting-penting saja. Tetapi pesan dari Darto demikian bertambah. Membuatnya akhirnya membalas: Malam. Lalu dimatikannya layar ponselnya, bergabung bermain lego dengan Si kecil Nana.

“Ih, Umi. Bukan begitu!” Si Kecil berseru sambil mengambil lego yang ditumpuk uminya dengan asal-asal. Mengajarkan dengan ketelatenan seorang 9uru. Bahwa keping ini harus di sini. Dan itu di situ. Kemudian ia kembali sibuk dengan daya khayalnya.


Ustadzah Alisha kembali sibuk dengan ponselnya, membaringkan tubuhnya di sofa. Saat layar itu terbuka. Terlihat Sepuluh pesan masuk dari Darto. Sepuluh pesan itu terdiri dari rangkain kata yang sama: Lagi apa?

Selang beberapa menit, pesan itu berlanjut lagi: Bales dong, Ustadzah. Kemudian Ustadzah Alisha membalas: Ada apa? Saya lagi sama keluarga, Darto. Kemudian tak lama dering berbunyi: Nemenin si kecil bermain?

Semakin diladenin, semakin pula Darto Bertanya. Akhirnya Ustadzah Alisha mematikan ponselnya. Melihat ke arah jam; sudah pukul delapan lewat lima belas. Setelah membersihkan lego di karpet, ia kemudian menuntun si Kecil.

Di kamarnya ia bacakan dongeng Kancil, bermenit-menit barulah Nana tertidur. Dikecupnya kening putri tercintanya, mengusap rambut halus itu dengan telapak tangan lembutnya. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.

Di atas tempat tidur, Farhan tengah terlelap, saking nyenyak ia tidak menyadari gerakan istrinya naik ke atas kasur. Ustadzah Alisha lekas mematikan lampu. Memejamkan mata. Berselang sepuluh menit. Ia merasakan matanya panas—ia tidak bisa tidur sehingga ia kembali menghidupkan lampu. Sudah pukul sembilan. Tetapi ia masih belum bisa lelap.

Akhirnya ia beranjak kembali ke ruang tamu. Di sana ia membuka ponselnya. Lalu dua puluh pesan masuk dari Darto muncul paling atas. Sebab merasa bosan, ia membalas kalimat Darto yang bertanya: Besok Ustadzah mau di anter lagi, Galonnya?

“Masih ada, Darto.” Tulis Ustazah Alisha.

“Besok, besoknya lagi?” Cepat Darto membalas.

“Nanti saya kabarin lagi, kalau memang sudah habis.”

“Kalau Timun?”

Membaca itu, Ustadzah Alisha menelan ludah. Untuk sesaat ada keinginan untuk membalas pesan nakal itu. Tetapi ia perempuan alim, penghafal kitab-kitab gundul. Tak elok baginya. Lagi pula`Ia sarjana pendidikan Islam. Tetapi ia malah membalas:

“Buat apa?”

Ketika ia mengirim itu, tangannya gemetar. Tubuhnya mendadak mematung. Dan bibirnya terasa kaku. Sebelum kemudian Darto membalas, membuat Ustadzah Alisha yang membaca itu lekas mematikan ponselnya dan kembali ke kamar tidurnya,

“Buat enak-enak.”

***​

Minggu sore itu, Ustadzah Alisha berpenampilan cantik dengan Gamis dan tas kecil disandang di bahu. Di depan cermin ia liuk tubuhnya ke samping. Aduhai ramping tubuhnya. Ia kenakan hijab panjang menutupi dada. Bibirnya dipoles gincu tipis berwarna merah pudar. Berpakain demikian, sebab ia akan menghadiri kondangan.

Di ruang tamu, Ustadzah Alisha mendapati suaminya sibuk dengan Laptop berada di pangkuan, bersama si Kecil Nana sedang menyusun Lego. Kemudian kepada keduanya ia berpamitan. Menyalami suaminya, dan mengecup pipi si kecil.

Di luar ia telah disambut oleh ibu-ibu lain, yang mengenakan pakaian mencolok dan hijab motif bunga, juga make-up berlebihan. Mereka berjalan menghadiri rumah acara. Ngocoks.com

Disana musik telah berkumandang, tamu-tamu undangan terlihat menepati kursi-kursi. Sedang mempelai sibuk berjabat tangan kepada hadirin. Biduan berjoget di atas panggung, dengan gerak tubuh melingkar di barengi tangan di atas, sehingga ketiaknya terpampang oleh hadirin yang menyaksikan. Lantunan dangdut kian menggema, diiringi sorak hadirin yang menganga.

Ustadzah Alisha bersama yang lainnya, mengambil duduk di paling ujung, setelah mengambil makan dan berjabat tangan dengan si pengantin. Bahkan ketika menyuap perempuan ini tampak elok, sesekali ia seka noda di bibirnya`dengan tisu.

Beberapa hadirin lelaki memperhatikannya, sungguh berbayang nakal mereka. Mereka bahkan sesekali mengajak Ustadzah Alisha mengobrol, meskipun ibu-ibu di samping Alisha memberikan tatapan tajam, seolah-olah berkata bahwa mereka sudah memiliki istri.

Musik Dangdut kembali meriah, biduan bersolek penuh gairah. Beberapa hadirin–lelaki– maju ke depan panggung, ikut meliuk tubuh. Yang lain pada ikut, berbondong dalam irama tarian tak bernama dan tak jelas asal mulanya. Semakin sore semakin pula banyak yang berjoget, bahkan pengantin pria ikut pula ditarik tangannya, ikut memeriahkan acara.

Ustadzah Alisha sungkan untuk pulang lebih dahulu. Sesungguhnya`setelah selesai makan, dirinya ingin langsung pulang, tetapi pemilik rumah mencegahnya. Bermaksud menghargai orang berilmu sepertinya, harus memberikan “Cuci tangan” Meskipun Ustadzah Alisha sudah menolak, dan tak perlu begitu.

“Ah, ini sudah menjadi adat acara, Ustadzah.” Kata si pemilik rumah. “Tak elok kalau pengantin tak bersikap ramah ke orang berilmu.”

Pada saat itulah ia kemudian bertemu dengan Darto yang keluar dari dalam rumah. Menunduk Ustadzah Alisha, dengan cara itu dipikirnya Darto tak mungkin mengenalinya. Tetapi Tukang Galong itu tak mudah ditipu oleh samaran tingkat rendah.

Seketika Ustadzah Alisha tersentak mundur dua langkah, ketika dilihatnya Wajah Darto tepat di hadapannya—ketika ia`menunduk. Lekas ia kemudian menjauh dan mengambil satu duduk di meja hidangan, menaruh kantong kresek yang berisi lauk pemberian dari Pemilik Rumah di atas meja. Ia menghindari Darto. Tukang Galon itu mengganggunya.

Benar rupanya, Darto mengambil kursi dan duduk di sampingnya. Sementara hadirin tampak mulai sepi, tetapi ramai di depan Panggung, bahkan pemilik rumah ikut-ikutan.

“Kenapa pesan saya gak dibalas Ustadzah?” Darto bertanya sambil mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.

Ustadzah Alisha masih diam. Membiarkan Darto berceloteh tak karuan. Kemudian ia bangkit, dan tanpa menoleh dan mengucap perpisahan, ia berlalu di antara hadirin yang berjoget. Bahkan ketika ia telah separuh Jalan, Tukang Galon itu menghampirinya, berjalan di sampingnya dengan cengir sana-sini. Akan tetapi, Ustadzah Alisha mempercepat langkah. Terjadilah kejar-kejaran langkah. Membikin Ustadzah Alisha capek, lalu perlahan langkahnya mulai kendur.

“Kenapa Ustadzah menghindari saya?” Bertanya Darto. “Apakah sebab saya bukan orang suci?”

Berhenti langkah perempuan alim itu. Berbalik menghadap Darto. Sedikit terengah ia berkata, “Kamu terlampau kurang ajar. Dan sebab itu saya tidak membalas pesan kamu. Tidak ada urusan suci atau tidak. Tetapi baik dan buruk. Kamu buruk! Dan itu alasannya,” Sebelum melanjutkan langkah, ia berkata lagi. “Kamu harus menghargai seorang perempuan. Terlebih saya sudah berumah tangga!”

***​

Ustadzah Alisha tampak gusar ingin mengadukan sikap Darto kepada Suaminya. Selepas makan malam, ia berniat mengadukan itu, barangkali suaminya bisa omong baik-baik kepada Tukang Galon itu. Tetapi ia urung. Kini di ruang tamu, dan suaminya di sebelahnya, ia juga tampak ragu.

Ia merasa kasihan, dalam pengertian seandainya Darto dipecat sebab tingkahnya itu. Sebab Ustadzah Alisha tahu bahwa Darto itu sehari-sehari mencukupi kebutuhan dari bekerja sebagai Tukang Galon. Pemuda itu tak bersekolah, tak tamat lulus Sekolah Dasar.

Bahkan ia tidak punya siapa-siapa; orang tua maupun adik. Bahkan ia memilih tinggal di satu rumah kosong, terletak di dalam pekuburan. Sebagaimana yang diketahui Ustadzah Alisha dan warga-warga sini. Tak ayal dilema dirinya.

Akan tetapi, jika ia tidak mengadukan, apakah Darto akan kembali mengusiknya? Membercandainya dengan Nakal? Sungguh tak elok dan tak nyaman ia diperlakukan sebagai itu; sebagai perempuan murahan. Tetapi dalam hatinya, tak pula ia ingin menambah kesengsaraan tukang Galong itu.

“Umi kenapa?” Suaminya memperhatikan kebingungannya. “Umi mau cerita?” Ia taruh laptopnya di sofa. Kemudian ia rangkul istrinya. “Ada masalah di pengajian? Atau gimana? Umi kelihatan gusar.”

Pada Akhirnya Ustadzah Alisha memilih bungkam. Seandainya Darto kembali berperilaku nakal, ia akan tegas, barangkali memperingatinya dengan dali-dalil keagamaan.

“Umi cuma ngerasa capek aja akhir-akhir ini.” Kata Ustadzah Alisha dengan roman wajah syahdu.

Farhan kemudian menghambur ikut bermain bersama si kecil. Kepada`istrinya ia beri isyarat untuk ikut bergabung juga. Ketiga keluarga itu menyusun balok lego. Sesekali si kecil akan memarahi umi dan abinya dengan gemes, kepalang jengkel sebab mereka tak bisa menyusun dengan benar.

Sesekali Ustadzah Alisha akan membentur tubuhnya ke arah suaminya, kemudian merangkul tangan suaminya. Tampak keluarga itu harmonis dalam irama penuh ria dan gembira.

***​

Pagi itu, setelah mengantar si Kecil dan berbelanja keperluan rumah, Ustadzah Alisha berehat di beranda rumahnya. Ia mengaji di dalam hati. Tak ingin membuat dirinya dipandang berlebih oleh tetangga sekitar yang berlalu lalang, dan menegurnya dengan sopan. Gerik matanya sibuk dari huruf ke huruf. Dibolak-baliknya kitab itu. Setelahnya, kemudian ia tutup, tak lupa dikecupnya. Menaruh kitab itu di kamarnya dan kembali ke beranda.

Ketika ia membuka ponselnya ia mendapati Tukang Galon itu mengirim fotonya tengah sholat, memakai peci, dan tersenyum ke arah kemera. Sontak Ustadzah Asiyah tergeletik dan melepas tawa kecil. Bukan sebab fotonya, tetapi sebab tulisan di bawah foto itu: Saya sudah meminta maaf kepada Tuhan, sebab saya berlaku buruk.

Tanpa ia sadari ia mengetik balasan: Kamu berlebihan, Darto… Saya juga minta maaf atas ucapan saya.

Aneh. Ustadzah Alisha merasa aneh. Sebab ketika pesan itu dikirim, ia menantikan untuk segera dibalas, sehingga membuatnya berkali-kali mengetuk nomor Darto.

Bahkan beberapa pesan dari jamaahnya, untuk sejenak ia hiraukan, menanti balasan Tukang Galon itu. Tentu ia tidak menyadari kegelisahannya, tetapi gerak tingkahnya, secara alami, melakukan tindakan penerimaan.

Untuk menyibukan dirinya, Ustadzah Alisha berkemas-kemas. Merapikan kamar si kecil, dan juga kamarnya. Serta membersihkan sofa dari debu-debu. Di dapur perabotan ia tata kembali, meskipun sudah rapi.

Beberapa piring bekas makan malam, ia cuci. Menggelembung sabun di tangannya. Sehabis usai ia bersantai di sofa. Menghidupkan Televisi, sekadar untuk membuatnya merasa tidak sendirian.

Ketika pada akhirnya ponselnya berdering singkat dan kecil, buru-buru ia buka dan mendapati Tukang Galon itu membalas pesannya: “Tetapi betul Timun bisa dinikmati tanpa dimakan, Ustadzah.”

Kali ini tingkah Ustadzah Alisha hanya menggeleng dan ada senyum kecil di sudut bibirnya. Tidak ia merasa terganggu atau terlecehkan seperti biasa. Ia hanya membalas: Mulai Lagi? Ngocoks.com

Darto menjelaskan, sebagaimana pesannya: “Maksud saya, Timun itu, kan bisa digunakan untuk hal lain. Contohnya, apa ya? Hmm.”

“Apa?” Singkat Ustadzah Alisha membalas.

“Buat kucing, kan, bisa, Ustadzah.”

“Emang kucing makan Timun? Lho, baru tau saya, Darto.”

“Kucing saya makan Timun.”

Mereka saling mengirim balasan. Kemudian Tukang Galon itu menjelaskan niatnya. Ia sungguh tak bermaksud kasar. Meskipun ia ralat kemudian. Sedikit, katanya. Tetapi bukan berarti ia tak senonoh dalam bertindak. Ia sebagaimana yang`lain, katanya, menghargai Ustadzah Alisha. Percakapan mereka terhenti sebab Darto ingin melanjutkan pekerjaan.

“Nanti saya hubungi lagi, ya, Ustadzah?” Ketiknya. “Apakah boleh?”

Ustadzah Alisha ragu menjawab. Ia tidak bermaksud untuk melanjutkan obrolan. Tetapi alam bawah sadarnya berkata lain, sebab ia membalas singkat: “Boleh.”

Pukul sembilan pagi ia menjemput Si Kecil Nana. Sebab cuaca panas, ia mengendarai mobilnya. Keluar dari garasi rumahnya. Berbaur di jalan-jalan.

***​

Si Kecil Nana mengomel di dalam Mobil sebab uminya itu kelewat sepuluh menit. Ia mengambek. Menghentak tangannya`di dada. Dan sebagai permintaan maaf, Ustadzah Alisha berjanji akan membelikannya Lego jenis baru. Sepasang Batman sedang mengendarai mobilnya.

“Umi Janji?” Si Kecil tampak begitu ruang.

“Iya sayang.”

Sesampai di rumah, Ustadzah Alisha lekas masuk. Si kecil terlebih dahulu menghempas duduknya di sofa, tasnya ia lempar ke tengah karpet, berbaring di sana. Sementara Ustadzah Alisha membuatkannya Es jeruk.

Setelah meminum Es Jeruk, Si kecil Nana, menagih janjinya. Ia melompat-lompat sambil berseru mengulurkan tangan.

“Mana Legonya, Umi?”

Ustadzah Alisha lekas menyapu rambut putrinya dengan gemas. Aduhai tingkahnya bikin Uminya tersenyum-senyum. Seolah-olah melihat dirinya sendiri dalam bentuk yang lebih kecil, dan juga cerewet. Kepada Si Kecil Nana, ia bilang ia titip kepada Abinya. Mengertilah anak kecil itu. Tak merengek lagi.

Seperti biasa. Ustadzah Alisha disibukan lagi oleh urusan rumah. Ketika si Kecil tertidur, akhirnya ia bisa bernafas lega, menghempas pantatnya di sofa. Satu pesan dari Darto belum terbaca. Ia ketuk.

Tukang Galong itu bertanya, apakah mau pesan galon. Diliriknya di spenser yang merapat ke dinding. Masih penuh. Tetapi apa salahnya menyiapkan cadangan? Pikirnya. Kemudian ia minta Darto untuk mengantar satu galon.

Ia gelisah. Ustadzah itu. Disebabkan oleh terakhir kali mereka bertemu, yang di mana ia memberikan kecaman ringan. Selang lima belas kemudian. Saat ia berada di dapur. Ia mendengar ketukan pintu, berlari cepat dan membukanya. Tampak Tukang Galon dengan rambut gondrong, dan keringat banjir di tubuhnya, tersenyum. Izin masuk dan kemudian menaruh galon itu di samping galon lain di bawah kolong dapur.

Ustadzah Alisha di belakangnya. Memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Jemarinya saling bertaut satu sama lain. Pertanda bahwa dirinya mengalami kegusaran. Ketika Tukang Galon itu berbalik, Ustadzah Alisha tampak salah tingkah, ia langsung berbalik melangkah cepat ke Ruang tamu, untuk kemudian duduk terdiam di sana.

Darto lempus kemudian. Ia tak berucap satu kata pun. Tetapi setelah pulang dan menjelang beberapa saat kemudian. Ia mengirim sebuah pesan singkat tapi mampu membuat Ustadzah Alisha malu-malu:

“Ustadzah tadi, kok, memperhatikan saya dan terlihat salah tingkah. Hm… Kenapa Ustadzah?”

Ustadzah Alisha merasa tertangkap basah. Ia tak berniat membalas itu. Ia menggerutu kepada dirinya sendiri, kenapa, kok, bisa ia bertingkah seperti itu. Padahal ia tak bermaksud seperti itu. Sungguh, katanya kepada diri sendiri.

Dan memang betul ia tak berniat apapun. Gerak tubuhnya itu adalah gerak tanpa ia sadari, barangkali pemberontakan terhadap dirinya sendiri, atas pengekangan bertahun-tahun. Untuk mendobrak norma, yang dipegangnya erat. Atau barangkali setan membisikannya sesuatu.

“Saya tadi berniat meminta maaf secara langsung, Darto.” Tulisnya.

“Kenapa gak jadi, Ustadzah? Eh, malah lari. Padahal tadi saya juga berniat sama. Melihat Ustadzah kayak sehabis lihat setan, saya jadi takut kalau nanti saya malah kena marah lagi.”

Ustadzah Alisha tak membalas . Ia berpikir langkahnya membalas pesan Darto sudah berlebihan. Ia menyadari bahwa tindakannya yang tanpa ia sadari, kerap mengambil alih gerak tubuhnya.

Demikian, pada akhirnya, ia memutuskan untuk menyudahi percakapan. Bukan ia tidak percaya terhadap kesalehannya, tetapi setan, sebagaimana yang ia tahu, punya banyak cara untuk menjerumuskan manusia dalam perangkapnya.

Seminggu setelah memutuskan obrolan dengan Darto. Ustadzah Alisha menyadari tindakannya itu tepat. Sebab percakapan mereka tidak didasari oleh kepentingan, atau tukar tambah ilmu, atau transaksi yang bersifat halal. Itu adalah jebakan setan, demikian pikirnya.

Setiap harinya ia disibukkan merawat keluarga kecilnya. Si Kecil Nana yang sekian hari selalu mengambek, tak boleh salah sikit. Nanti pastilah ia merengek. Juga suaminya yang selalu sibuk kapan hari. Menghabiskan waktu malam dengan Laptop yang selalu bertengger di pangkuan.

Kadang-kadang hampir separuh waktu kumpul keluarga, dihabiskan olehnya dengan suara ketik keyboard. Tetapi Ustadzah Alisha memberi pengertian, mau bagaimana pun yang dilakukan oleh suaminya, tentu saja untuk keluarganya, untuk keluarga kecil mereka, yang, semoga, terus akan berbahagia.

Ustadzah Alisha, juga hari ke hari disibukan oleh jemaahnya. Ia beberapa kali mengisi pengajian di Masjid Al-Nurul. Memberi ceramah bertema: kepatuhan seorang istri terhadap suami. Demikian isinya: Adalah istri harus berlaku baik. Sebaik-baiknya. Dan pabila seorang istri tidak melayani suami dengan baik.

Sungguh mereka adalah orang-orang yang mengisi neraka. Dan pabila seorang istri berlaku menyimpang terhadap kesetian pernikahan mereka. Maka tak ada tempat lain selain neraka. Pabila seorang istri berperilaku baik dan melayani suami, sungguh tak ada tempat selain mereka daripada surga.

Setelah mengisi ceramah di masjid. Ustadzah Alisha kemudian disibukan oleh kegiatan kerja bakti di masjid. Sebagai jemaah yang baik—tentunya—ia tak pernah absen. Demikian pada akhirnya, bersama warga-warga lain ia ikut menyapu halaman.

Dibagi menjadi beberapa kelompok—kelompok lelaki fokus membersihkan bagian dalam. Halaman parkir terlihat bersih tanpa dedaunan kering yang berhamburan dari pohon sawo di samping Masjid. Keset-keset kaki di taruh di setiap ruang masuk; tempat wudhu, ruang belakang, juga ruang masuk.

Zubaidah—salah satu jamaah—mendekati Ustadzah Alisha. Terjadi percakapan ringan antara mereka. Zubaidah yang masih muda—23 Tahun—bertanya perihal jodoh. Ia singgung malu-malu kalau dirinya, didekati seorang pria, yang lebih tua daripadanya.

Berbulan-bulan mereka dekat dan saling berkirim pesan. Zubaidah menambahkan: lelaki itu mapan perihal Materi, memiliki pekerjaan yang layak, dan paham agama. Kemudian ia sampai pada intinya bahwa lelaki itu hendak melamarnya.

“Kamu sendiri, bagaimana, Zubaidah?” Ustadzah Alisha balik bertanya. “Kalau kamu merasa siap. Dan keluarga kamu setuju. Tunggu apalagi?”

Zubaidah mendekat, membisikan sesuatu di telinga Ustadzah Alisha. “Umurnya enam tahun di atas saya, Ustadzah.”


“Bukankah lebih bagus?” Ustadzah Alisha balik bertanya. “Saya dan Suami berbeda tiga tahun, lho, Zubaidah. Tidak ada masalah perihal umur. Terpenting, toh, keyakinan kalian berdua dan bagaimana kalian menjalani pernikahan. Kalau kamu dan dia sudah merasa cukup matang`untuk masuk ke jenjang berikutnya. Menurut saya, silahkan. Terlebih kamu bilang, dia paham agama, bukan?”

Zubaidah medapatkan pencerahan. Seminggu ia dilanda dilema. Pada akhirnya, jawaban dari Ustadzah Alisha memberinya kesimpulan. Kemudian ia berterimahkasih yang banyak kepada Ustadzah Alisha. Ustadzah itu membalas dengan senyum singkat dan doa agar pernikahan mereka berjalan dengan lancar.

Setelah beres-beres itu, Ustadzah Alisha pulang berbarengan dengan Zubaidah. Sedikit menyinggung pernikahan, Ustadzah Alisha memberikan tuntunan bagaimana menjadi istri yang saleh. Dijelaskannya secara rinci.

Kemudian mereka berpisah di persimpangan jalan. Zubaidah mengambil kiri. Dan Ustadzah Alisha mengambil kanan, mengarah ke rumahnya. Ngocoks.com

Pada saat ia memasuki satu gang kecil—Tempat Darto bekerja berada di samping gang—ia bertemu Darto yang tengah mengendarai motor butut dengan Ambong besi di jok belakang, bertumpuk galon-galon kosong di sana. Merasa tak enak, Ustadzah Alisha mengambil langkah memutar, memilih agar Darto lewat lebih dahulu.

Akan tetapi Darto malah berhenti di penghujung jalan di sebelah Ustadzah Alisha yang menunduk menjaga marwah. Tukang Galon itu sekonyong pada intinya, bertanya kenapa Ustadzah Alisha tidak membalas pesannya. Ia menanti.

Dan sungguh ia meminta maaf jika ada salah ucap atau kalimat. Ia hendak turun dari motornya, tetapi Ustadzah Alisha sudah lebih dahulu mengambil langkah. Membuatnya mendengus kesal dan berkata kotor dalam hati, bukan kepada perempuan itu, tetapi lebih kepada dirinya sendiri.

Dihempasnya tubuhnya di sofa sesampainya ia di rumah. Ia merasa bersalah kepada Tukang Galon itu. Andaikata jika Darto mendekatinya. Maka tindakannya yang berkirim pesan tempo hari, adalah memberi harapan secara tidak langsung kepada Tukang Galon itu. Walaupun ia sama sekali tidak berniat seperti itu.

Ia mengecek ponselnya, dan rupanya benar Darto mengirim pesan sebanyak 130. Ustadzah Alisha sungkan untuk membuka, takut rasa bersalahnya itu, nantinya, membuatnya membalas pesan Darto. Dibiarkannya itu begitu saja, sementara ia beranjak ke dapur, selagi si Kecil tukang Rengek masih tertidur, ia harus cepat membikin masakan untuk nanti makan malam.

***​

Tempo hari Zubaidah semakin gencar mendekati Ustadzah Alisha dalam satu kesan meminta nasehat. Sehabis dari memberi ceramah, Zubaidah akan menggiring pulang ustadzah itu. Sambil terus bertanya—atau lebih tepatnya menyakinkan dirinya sendiri—perihal pernikahan keduanya, yang akan diadakan tiga bulan lagi. Ia mendengarkan Ustadzah Alisha, yang menyuruhnya untuk melaksanakan Solat dalam waktu tertentu, dan berpuasa.

Ustadzah Alisha mengatakan itu tak serta-merta. Ia punya landasan kuat, sebagaimana yang ia pelajari dari kitab-kitab berisi huruf-huruf gundul. Bahwa beberapa keyakinan bisa diperkuat atas petunjuk-Nya.

Dan oleh karena itu senantiasa melakukan apapun, yang oleh-Nya diperintahkan. Ustadzah kemudian berkata lagi: “Segala hal yang baik, akan dipermudah, Zubaidah.” Lantas ia mengemukakan pendapatnya, bahwa pilihan seorang perempuan yang dilandasi kecintaan terhadap Tuhan-Nya, dan melakukan itu sebagai sebuah tuntunan, bukan sebagai keinginan pribadi dan nafsu yang memaharaja. Senantiasa akan berakhir dengan kebahagian. Sebagaimana ia mencatut pernikahannya, sebagai bukti hubungan yang dilandasi atas dasar agama.

Sesungguhnya itu benar. Ustadzah Alisha, tak sama sekali mencintai Farhan mula-mulanya. Mereka terhubung atas dasar kedua orang tua saling mengenal. Dan kemudian terjadilah perjodohan. Ustadzah Alisha yang ketika itu berumur 22 tahun, setelah menyelesaikan kuliahnya, di bulan Oktober, akhirnya menyetujui lamaran Farhan. Di bulan Februari, mereka menikah. Tak lama selang dari itu, ia mengandung Si Kecil Nana.


Ustadzah Alisha beranggapan bahwa cinta bisa timbul dibersamai oleh waktu. Seperti yang ia dapati terhadap dirinya sendiri, ia mencintai suaminya pada bulan ke empat setelah pernikahan. Ketika ia melihat tingkah sungguh-sungguh suaminya, yang memperlakukannya penuh lembut dan cinta.

Kehamilannya, pada akhirnya, mengokohkan cintanya terhadap Farhan. Sebab lelaki itu berperilaku demikian manis ketika ia mengandung. Bahkan suaminya sempat menolak kerja, disebabkan menjaganya. Alangkah manisnya pernikahan mereka di masa-masa awal.

Untuk kali terakhirnya, Zubaidah bertanya sebelum mereka berpisah di simpang. Perempuan itu menunduk. Wajahnya sedikit ragu. Suaranya kecil ketika ia berkata:

“Saya takut pilihan saya salah, Ustadzah,” katanya. “Saya sendiri merasa tidak menyukai lelaki yang melamar saya. Meskipun dia lelaki baik. Tetapi, saya takut, andaikata saya tidak bisa mencintainya. Saya takut ia tersiksa atas perilaku saya. Saya takut ketika dia hidup dengan saya, saya menderita, dia pun sama. Tapi, Ustadzah, jauh dilubuk hati saya. Saya menghormatinya sebagai lelaki yang berani.”

Mendengar itu Ustadzah Alisha tersenyum. Alangkah elok pemikiran gadis ini, Pikirnya. Kemudian ia mengusap lembut punggung tangan gadis itu. Menyemangatinya. Dan pada akhirnya ia menyerahkan keputusan terbaik kepada sang pemilik keputusan.

“Apapun pilihan kamu,” Berkata Ustadzah Alisha. “Itu yang terbaik untukmu, Zubaidah.”

Mereka berpisah di persimpangan.

Sesampai di rumah, Ustadzah Alisha langsung disambut oleh Si kecil tukang rengek di meja dapur. Tampak matanya diseliputi rasa kantuk. Kemudian ia meminta makan kepada uminya dengan nada sebal, minta dibuatkan goreng ayam dan jus jeruk. Ustadzah Alisha menuruti permintaan putrinya yang, menurutnya, sungguh lucu dan menggemaskan, tingkahnya.

***​

Malam itu, di dalam kamar, Ustadzah Alisha membuka kerudungnya. Berjuntailah rambut panjang dan hitam dan halus itu, sepundak. Ia mengenakan baju tidur. Sungguh wajahnya terlihat bagaikan rembulan di langit malam, dengan bulu mata lentik, dan pipi bening sehingga urat pipinya terlihat bagaikan akar serabut.

Pelan-pelan ia mendaratkan tubuhnya di atas kasur, ikut bergabung dengan suaminya yang berkutat dengan layar Laptop. Jika sudah begini, dianggurilah istrinya itu—yang sesungguhnya ingin meminta jatah.

Demikian pada Akhirnya Ustadzah Alisha, sedikit sebal, membalik tubuhnya, dan berusaha memejamkan mata kuat-kuat. Ketika suaminya mengajak mengobrol, tak ia jawab, bahkan cenderung merengek kekanakan-kanakan. Terlihat bahwa si kecil tukang merengek mewarisi sifat uminya.


“Abi minta maaf, Umi.” Farhan mencoba memeluk istrinya. Meskipun istrinya tampak tak ingin disentuh. Kemudian ia berbisik manja. “Mau bikin adek buat Nana, Umi?”

Bersemu merah pipi Ustadzah Alisha. Seperti bertahun-tahun yang lalu, berdebar pula jantungnya. Jika sudah begini, maka mereka akan bercinta. Tetapi ia masih ingin melihat usaha suaminya dalam meruntuhkan ngambeknya. Maka tak ia tanggapi.

Kemudian sekonyong suaminya memasukan jemari ke dalam baju tidurnya. Membuat Ustadzah Alisha meliuk kanan-kiri, tetapi tak ia keluarkan jemari nakal itu, yang kini sudah memelintir putingnya. Sehingga membuatnya nyaris menyerah dengan mengeluarkan desah. Tetapi ia tahan. Ia tak mau kalah.

Farhan semakin gencar. Ia suka sikap istrinya yang begini. Sebuah tantangan, pikirnya. Kemudian ia bergerak mematikan lampu, lalu kembali ke atas ranjang, berbalik memeluk istrinya. Disibaknya rambut yang menutupi leher istrinya, kemudian bibirnya menjelajah di sana. Dikecupnya. Dibasahinya. Sementara jemarinya menyusuri buah dada istrinya. Di dalam kegelapan tampak suami-istri itu memacu gairah.

Menerima sentuhan demikian bertubi-tubi, pada akhirnya Ustadzah Alisha menyerah. Berbalik. Menatap suaminya. Lalu mereka terlibat dalam adu cium yang kikuk, sebab tak ada lidah yang ingin mencari satu sama lain.

Mereka bersetubuh dalam gelap. Saling mengeluarkan desah kecil—tak ingin mengganggu lelap si kecil di kamar sebelah. Selalu Ustadzah Alisha berada di bawah, membiarkan suaminya menggempurnya secara perlahan, sementara ia bertugas memejamkan mata dan meliuk-liuk menikmati setiap gempuran yang diberikan. Untuk kemudian suaminya akan mengerang sedikit panjang tetapi pelan, lalu ambruk di sampingnya, lalu tertidur pulas.

Demikian persetubuhan itu berlangsung. Meskipun Ustadzah Alisha tidak bisa mencapai orgasme, bukanlah berarti ia tidak menikmati itu. Tugas seorang istri adalah melayani suami. Jika suami sudah merasakan puas. Maka sudah lebih dari cukup. Seorang istri, menurut cara pandang Ustadzah Alisha, tak perlu mendapatkan kebutuhan puncak. Itu bonus, katanya.

Ia tak langsung tidur. Ia kembali mengenakan baju tidurnya tanpa dalaman. Mencari saklar dan menghidupkan lampu. Setelah itu ia membuat Es Jeruk untuk dinikmatinya di ruang tamu. Duduk disana sambil menggulir ponsel, melihat jadwal ceramah untuk diisi beberapa hari kedepan.

Saat ia menggulir ponselnya, satu pesan masuk dari Darto kembali muncul—ketika itu sudah pukul sepuluh lewat empat puluh—di pandanginya sejenak pesan itu, tanpa niat membukanya. Lagi pula nomer Darto tak disimpannya.

Dan ia tak berminat untuk kembali terlibat dalam percakapan basa-basi. Ia meneguk Es Jeruknya. Kemudian bersendawa kecil sambil menutup mulutnya. Ngocoks.com

Bunyi pesan Darto terus bermunculan. Sehingga membuat Ustadzah Alisha, pada akhirnya, mengetuk ruang percakapan itu. Kalimat-kalimat bertumpuk. Tanda baca tidak beraturan. Lebih sering menggunakan tanda seru pada akhir kalimat.

Kemudian ia menggulir percakapan dari terakhir kali mereka berkirim pesan. Digulirnya hingga ia mencapai titik akhir, lalu satu pesan baru muncul: Ustadzah, mohon kesediaannya untuk membalas!

Ustadzah Alisha sedikit terenyah dengan ketekunan Tukang Galon itu. Ketika ia membaca pesan bertubi-tubi singkat itu, yang cenderung mengirimkan satu kalimat yang sama setiap harinya: Lagi apa, Ustadzah?

Ustadzah Alisha tidak menyadari ia tersenyum kecil. Pada sudut bibirnya terlukis satu gores tak sampai mata. Tetapi ia tersenyum. Jelas. Dan betul-betul tersenyum. Tetapi bukan berarti ia mau membalas pesan Darto.

Malam itu ia kembali ke kamarnya. Mematikan lampu. Kemudian tidur di samping suaminya, yang barangkali sudah mimpi ke dunia antah berantah.

***​

Sore itu hujan turun semena-mena. Ustadzah masihlah berada di Masjid. Menunggu hujan kian meredah. Ia duduk di satu bangku lebar di dekat beduk. Kakinya bergerak turun-naik diakibatkan kebosanan. Kepalanya liuk kanan-kiri.

Ia bangkit sebentar untuk melihat awan yang gelap. Ketika petir menyambar dan geledek bergemuruh, Ustadzah Alisha memeluk dirinya sendiri sambil memejamkan mata, kemudian kembali duduk. Ia merasa kedinginan, dan sungguh ia tak menyangka hujan akan turun, kalau tahu begitu ia akan membawa payung.

Ia tampak gusar sebab Si Kecil Nana sendirian di rumah. Si kecil tukang rengek itu takut geledek, juga petir. Bagaimana jika ia terbangun dari tidur sorenya, dan kemudian menangis mendapati tidak ada satu pun orang di rumah?

Dan itu membuat Ustadzah Alisha semakin gusar, sehingga berpikir akan menerobos hujan. Tetapi bagaimana jika tubuhnya kuyup oleh air dan…pada akhirnya ia menunggu sedikit lebih lama. Berharap hujan memberi pengertian.

Pukul setengah lima sore, hujan berhenti, membawa serta aroma tanah basah. Setelah merapikan gamisnya, Ustadzah Alisha melangkah terburu-buru,sehingga bulir pasar terangkat dan tersangkut di gamis yang menutup mata kakinya.

Di persimpangan ia memilih jalan lain, tentu menghindari tempat Galon Darto bekerja. Ia mengambil jalan kanan, lalu berbelok ke kiri. Meskipun sedikit jauh.

Sampai di rumah, bergegas ia membuka pintu. Begitu pintu terbuka Si Kecil Nana langsung berlari kecil-kecil, memeluk kakinya. Tetapi ia tak menangis, membuat Ustadzah Alisha melenguh syukur.

“Umi, kok, lama Umi.” Berkata si kecil. “Ada geledek, Umi. Nana takut. Untung ada om-om jelek.”

Mendengar itu, Ustadzah Alisha bingung. Om jelek? Pikirnya. Kemudian ia meminta penjelasan kepada si kecil. Nana menjelaskan ketika ia terbangun oleh suara geledek ia buru-buru ke ruang tamu. Tetapi tak ada orang. Lalu ia menangis. Tak lama dari itu. Om-om jelek, katanya, mengetuk pintu. Olehnya dibuka.

“Tukang Galon itu, Umi.” Nana menjelaskan.

Kemudian Si Kecil bilang bahwa ia meminta Tukang Galon itu untuk menemaninya bermain di ruang tamu. Si Kecil Nana menunjuk Lego yang telah jadi—Terlihat Batman sedang berdiri di depan Mobilnya. “Lihat Umi.” Ia menarik tangan uminya. Penuh girang wajahnya meriah.

Ustadzah Alisha merasa bersalah. Bukankah tindakan Darto untuk menjaga anaknya—meskipun tak diminta—adalah perbuatan baik? Berbanding terbalik dengan sikapnya. Akan tetapi, Ustadzah Alisha juga berfikir demikian, bukankah ia tidak berlanggan Galon Isi Ulang ke Darto lagi? Lantas kenapa bisa demikian terjadi?

Ada kecurigaan dan terima kasih. Saling menghajar dalam benak pikirnya. Tetapi untuk sesaat ia singkirkan rasa was-was. Mau bagaimanapun Darto sudah menemani putrinya. Dan jauh di dalam benaknya tidak sekalipun ia menganggap Tukang Galon itu berniat jahat.

Maka sehabis Sholat Magrib, masih dalam balutan telengkong, sambil menemani Si Kecil Nana bermain. Ia mengirim satu pesan singkat kepada Darto. Ucapan terima kasih sebab sudah menemaninya anaknya. Dan ia juga tak tahan untuk menulis kalimat berikut, yakni kenapa Darto mengantar Galon ke rumahnya.

Tetapi selang beberapa jam, tak pula Tukang Galon itu membalas pesannya. Bahkan ketika Suaminya pulang, dan sehabis makan malam, dan bersantai lagi di Ruang tamu. Darto tak kunjung memberi balasan. Itu membuat Ustadzah Alisha kesal, sebab ia mengira Darto membalas dendam. Tetapi kenapa ia kesal? Ia pun tidak tahu.

Di kamarnya menjelang tidur, Ustadzah Alisha masih kepikiran. Ia bolak-balik mengecek ponselnya. Suaminya bertanya. Dibalasnya bahwa ia menanti jadwal ceramah untuk esok harinya.

Sebab ia tidak bisa tidur seperti biasanya. Ia ke ruang tamu setelah membuat Es Jeruk. Menggulir ponselnya. Sudah Pukul sebelas lewat dua puluh. Tukang Galon itu sama sekali tidak membalas. Ustadzah Alisha menghembus nafas. Biarlah, pikirnya. Toh, ia sudah mengucap terima kasih.

***​

Pagi harinya ia masih dibebani akan hal itu. Masih belum ada balasan. Ia bersikeras menyangkal bahwa ia tidak menunggu balasan dari Tukang Galon itu dengan berbagai cara; Ia akan menggulir ponselnya dan melihat percakapan lain atau berpindah sosial media.

Tetapi setiap beberapa menit ia kembali membuka Whatsappnya. Melihat apakah Darto sudah membalas. Ia resah. Sungguh. Berpikir untuk menemuinya secara langsung, membuatnyaa menggeleng-geleng.

Setelah semua pekerjaan rumah beres ia kembali mengecek ponselnya. Sama. Pada akhirnya ia menulis pesan kepada Tukang Galon itu: Saya pesan satu Galon. Tolong diantar. Sedikit kesal ia menambahkan: Sekarang!

Di ruang tamu ia menunggu. Gelisah. Jemarinya secara reflek meremas gamisnya, memelintirnya sehingga terlihat berantakan. Jilbabnya ia rapikan. Tubuhnya ia tegapkan dengan kokoh. Tingkah yang seolah-olah akan bertemu dengan orang penting.

Ketika suara ketukan terdengar. Secara tak terduga tubuhnya mengirim debur ombak ke jantung, sehingga geraknya menjadi canggung membuka pintu. Dan debur ombak pada jantungnya, mengirim semu merah di pipi ketika Darto muncul di hadapannya. Semu merah itu merangkak menjadi gelagap. Beberapa burung camar mengepak di dalam perutnya.

Ia mengikuti Darto. Ia ingin mengucapkan terima kasih. Tetapi bibirnya seolah-olah terkunci. Maka ia perlahan menyaksikan Pemuda itu melewatinya. Sekuat tenaga, nyaris berteriak Ustadzah Alisha berkata:

“Terima Kasih, Darto. Perihal tempo hari.” Gelagap sambil menunduk ia melanjutkan. “Saat hujan.”

Darto membalik tubuhnya. Ia tergelitik dan ingin tertawa kecil. Juga ia merasa puas, sebab inilah yang diinginkannya. Dan barangkali rencananya tempo hari itu membuahkan hasil. Terlebih ketika ia menahan rindu untuk tidak membalas pesan Ustadzah yang berdiri malu-malu di hadapannya ini.

“Maksudnya, Ustadzah?” Darto bertanya sambil menggulung senyum. “Saya gak ngapa-ngapain, perasaan. Lagian, Ustadzah tumben mau omong sama saya? Hm… kenapa Ustadzah?”

“Begini, Darto. Perihal kamu nemenin anak saya. Saya berterima kasih. Tetapi…boleh saya tanya? Kenapa kamu mengantar galon? Saya merasa tidak pernah memesan.”

“Ah, jadi Ustadzah ini mau berterima kasih atau…menuduh?”

Ustadzah Alisha gelagapan. Ia tanpa sengaja mengatakan dua hal yang kontradiktif. Lalu bersungguh ia meminta maaf. Kemudian terlihat kecewa pada mimik Ustadzah Alisha ketika Darto pergi tanpa sepatah kata. Ketika ia kembali ke ruang Tamu. Ia mengirim satu pesan kepada Darto:

“Kamu marah?”

Darto yang barangkali melaju motornya secepat kilat, membalas secepat itu pula:

“Engga, Ustadzah. Kenapa?”

“Kenapa kamu pergi begitu saja?”

“Lho, lho, emang Ustadzah mau omong lebih lama?”

Ustadzah memperoleh malu. “Engga!” tulisnya.

“Saya tadi mau ngobrol, kok, Ustadzah. Tetapi saya pikir, Ustadzah, kan, ngejauhin saya. Lagian saya juga akhir-akhir ini sudah bisa menerima itu.”

Ustadzah Alisha merasa terhenyak ketika membaca bagian “Menerima”. Debur dadanya berganti badai, memporak-porandakan ia punya perasaan, mengubur kehadirannya. Ia tak ingin Tukang Galon itu terbiasa atas ketidakadaan dirinya. Jauh di lubuk hatinya. Ia ingin dikejar. Seperti burung. Seperti kunang-kunang. Ia ingin ditangkap.

“Baiklah kalau gitu, Darto. Saya blok, ya, kamu?”

Ustadzah Alisha memperlihat lagak kekanakannya itu. Sungguh ia merasa dirinya bagaikan tercampakan. Sehingga membuatnya merasa kesal. Tetapi tak ia lakukan itu. Ia menunggu. Menunggu balasan dari Tukang Galon itu.

“Lho, belum di blok, Ustadzah?” Tulis pemuda itu. Jauh di tempat ia berasal, ia tengah tersenyum girang. Mempermainkan istri beranak satu itu.

Jengkel bukan main Ustadzah Alisha dibuatnya. Sehingga ia ingin memekik. Membuncah barah dalam tubuhnya.

“Oh. Sungguh. Darto?”

Di kejauhan Darto merasa panik. Ia tidak mau begini pada akhirnya. Jadi ia menulis:

“Permintaan maafnya, saya terima, kok, Ustadzah. Tetapi saya mau jelasin juga. Saya ketika itu berniat untuk bertemu Ustadzah. Makanya saya anter galon. Hujan, lho, Ustadzah. Tetapi saya tetap terobos. Meskipun saya basah kuyup.

Tetapi malah si kecil yang muncul. Kemudian saya lihat si kecil ketakutan. Dia meminta saya untuk nemenin bongkar-pasang lego. Begitu, Ustadzah. Demi Tuhan, saya tidak berniat apapun. Sungguh. Beneran.”

Ustadzah Alisha membaca itu sambil bibirnya tersungging.

“Kenapa kamu mau ketemu saya, Darto?” Ia menulis.

“Sebab Ustadzah perempuan idaman saya.”

Debur ombak berubah menjadi desir aneh. Menjalar pada sendi dan darahnya. Membuat bulu kuduknya meremang. Jantungnya bagai dipacu sembarangan. Ia perempuan beristri dan beranak satu, juga seorang alim. Seorang Ustadzah. Tetapi tak biasa ia bohongi perasaannya sebab tubuhnya merespon dengan cara paling jahanam.

***​

Sungguh pesan yang dikirim Darto Itu tertanam dalam tempurung otaknya. Di kamar ia tak henti-hentinya memikirkan itu. Gerak tubuhnya menjadi aneh di atas tempat tidur. Gulingnya ia peluk rapat-rapat. Sesekali ia gigit sarungnya.

Ia rasa ia perlu membalas kalimat itu, tentu dengan pertanyan, “Kenapa”. Lantas ia lihat suaminya yang tengah tertidur demikian lelapnya. Bagaikan pencuri ia mengendap-endap keluar, membawa ponselnya. Ngocoks.com

Di ruang tamu ia sempat kesal ketika mendapati Tukang Galon itu tak mengirim pesan lagi. Butuh waktu sepuluh menit untuk ia meyakini dirinya untuk kembali mengirim pesan:

“Darto? Kamu sudah tidur?”

Ia sempat ingin menghapus pesan itu. Sebab terlalu aneh, baginya. Terlalu aneh untuk dikatakan perempuan yang telah menikah. Tetapi keburu terlambat sebab si penerima pesan langsung membalas.

“Belum, Ustadzah. Tumben, chat duluan. Suaminya gak marah?”

Seharusnya ia membalas dengan memaki. Sebab secara tidak langsung itu adalah penyerangan terhadap kehormatannya. Tetapi ia malah berlagak canggung seolah-olah Tukang Galon itu tengah ada di depannya. Dan berikut ia membalas:

“Dia sedang tidur, Darto.”

Di kediamannya, Darto tengah tersenyum-senyum. Ikannya masuk dalam perangkap. Bahkan dengan itu pula ia merasa bahwa ia pantas melakukan tindakan lebih lanjut. Tetapi agaknya ia menahan diri. Maka ia membalas:

“Ada keperluan apa, Ustadzah?”

Bimbang dan ragu. Ustadzah Alisha berdiam cukup lama, membiarkan jemarinya kaku untuk mengetik. Meyakinkan dirinya untuk menanyakan apakah pantas bertanya perihal yang ingin ditanyakan. Kembali dirinya berkutat dalam ketidakpastian itu.

“Kenapa?” Bahkan untuk mengetik itu ia pun susah, seolah-olah itu kalimat paling jahanam yang pernah manusia ciptakan. Andaikata ia menerima jawaban dari kalimat: “Kenapa?” Apakah ia sudah siap untuk jawabannya? Bagaimana jika sekonyong pada akhirnya ia merasa luluh.

Tetapi, agaknya, tidak mungkin, Sebab ia perempuan saleh. Sebagaimana yang ia katakan di ceramahnya saban hari bahwa perempuan yang melanggar ikrar pernikahan, akan dilaknat di Neraka Jahanam.

Tetapi ia malah membiarkan jemarinya mengetik. Ia pun tidak tahu kenapa. Ia menulis demikian:

“Apa maksud kamu perihal saya wanita idaman kamu?” Sebab menjaga kehormatannya, ia menambahkan, “Saya perempuan telah menikah. Jangan berlaku kurang ajar, Darto.” Sungguh ia ingin menghapus kalimat ke dua itu.

Sebab bagaimana seandainya Galon itu tak menghubunginya lagi? Tertanda sudah dibaca. Ia memejamkan mata. Berharap-harap. Entah berharap apa. Ia pun tak tahu.

Ustadzah Alisha masih menunggu. Bulir keringat di dahinya berontokan sementara giginya menggigit kuku. Gerak tubuhnya dipacu oleh ketidaksabaran penantian dari pemuda di seberang. Lima menit. Sepuluh menit. Tak kunjung ia terima balasan itu. Kemudian pada menit Lima belas ia dengar dering ponselnya. Buru-buru ia baca pesannya:

“Sebab Ustadzah cantik. Ayu. Soleha. Dan… bikin kangen.”

Tubuhnya semakin gelisah ketika membaca kalimat sanjungan itu. Melemparnya kembali pada masa remaja. Debur ombak kembali menerpa. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Entah kenapa ia merasa obrolan ini semakin seru. Semakin membuatnya ingin terus bertanya-tanya.

“Terus?” Tulisnya.

“Kayaknya, Ustadzah…enak.”

Kini pembuluh darahnya melaju cepat. Tubuhnya memanas. Kalimat itu tentu saja Vulgar. Dan Ustadzah Alisha bisa dengan mudah menangkap maksudnya. Tetapi, anehnya, dengan kalimat itu ia merasa tersipu. Bagaimana bisa? Tetapi ia tak sampai untuk membalas. Ia hanya menatap kalimat itu lama-lama sambil berharap Tukang Galon itu kembali mengirimkan sebuah pesan lagi.

“Ustadzah marah? Sebab saya bilang Ustadzah enak?” Tulis Darto kemudian.

Untuk beberapa saat Ustadzah Alisha tidak ingin melanjutkan percakapan. Bukan sebab ia tak mau, tetapi sebab ia tidak ingin tergelincir terlalu dalam. Akan tetapi, ketika ia hendak mau masuk ke dalam kamarnya, pikirannya seolah-olah menyuruhnya untuk membalas pesan Darto. Itu hanya berkirim pesan. Tidak bakal berdosa. Demikian pikirannya bekerja.

“Engga, Darto.” Tulisnya singkat.

“Terus kenapa Ustadzah gak balas waktu saya bilang Ustadzah enak? Hm…”

Segera ia mematikan ponselnya. Beranjak masuk ke dalam kamarnya. Di atas tempat tidur ia lihat suaminya lagi. Wajah itu pulas. Bola mata di balik kelopak itu tenang. Raut wajahnya bagaikan sepoi-sepoi angin yang sejuk. Ustdazah Alisha menyenderkan punggungnya di penyangga ranjang. Sekali lagi. Ia lihat suaminya. Sekonyong rasa bersalah muncul dalam hatinya. Ia tak tahu kenapa ia bisa begitu. Ia telah jauh. Karenanya ia usap rambut suaminya dengan lembut. Membelai rambut itu bagaikan membelai seekor kucing. Sebelum terlelap, dikecupnya kening suaminya dalam kehangatan yang menjalar.


Pagi harinya ia terbangun kala biasa. Menggemaskan rumah ketika suaminya dan Si Kecil Nana sudah berangkat. Pagi ini ia tak punya jadwal apapun. Kemudian ia menyapu halaman, dipenuhi dedaunan dari pohon tetangga, yang barangkali tersapu angin dan mendarat di halaman rumahnya. Sambil menyapu ia bersenandung, sesekali menjawab tegur dari tetangganya yang mau berangkat kerja. Iya, hati-hati, katanya kepada mereka.

Tetangganya kerap menyapanya, bahkan tak jarang untuk mengajaknya bercakap-cakap. Bertanya-tanya perihal agama dan lain-lain. Tentu mereka mengharapkan jawaban dari seseorang berilmu untuk bekal menjalani kehidupan.

Sekali waktu mereka mendekati Ustadzah Alisha, sekadar untuk minta dibela perihal rumah tangga; ini salah siapa? Atau suami saya yang pasti salah! Akan tetapi, kadang-kadang mereka pulang dengan wajah memelas, sebab mendapatkan jawaban yang tidak diinginkan.

Ketika pada akhirnya semua tugas telah diselesaikan, Ustadzah Alisha akhirnya bisa berehat sejenak. Ia pergi ke ruang tamu, membuka ponselnya. Lalu sekonyong ponselnya terhempas jatuh ke lantai. Disebabkan oleh sebuah gambar penis berbulu lebat dan panjang yang dikirim oleh Darto dalam foto sekali lihat. Ustadzah Alisha masih dalam ketercekatan yang luarbiasa. Kemaluan itu sungguh masih berbayang. Rambut-rambut lebatnya, kulupnya, besarnya dan panjangnya.

Terlebih yang membuatnya terkejut adalah ia tidak menyangka Darto akan mengirim foto penisnya dengan enteng. Seolah-olah itu hanya foto biasa saja. Ustadzah Alisha, untuk pertama kalinya, melihat penis yang bukan punya suaminya. Bahkan ia tak yakin bentuk kemaluan suaminya sebab selama delapan tahun pernikahan, mereka selalu bercinta dalam keadaan gelap. Akan tetapi, kemaluan Darto, jelas ia lihat.

Ustadzah Alisha menangkup kedua wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ponselnya masih ia biarkan tergeletak di lantai. Ia mengatur tempo nafasnya agar stabil. Ngocoks.com

Ketika pada akhirnya ia kembali mengambil ponselnya; dengan hati-hati ia menggeser layar agar Penis berbulu lebat itu tak memenuhi layar Ponsel. Tetapi ia tak sanggup untuk menggeser itu. Ia penasaran. Perlahan matanya yang terpejam menengok ke arah layar tetapi hanya sebagian; menampakan kulup kemaluan Tukang Galon itu. Masihlah ia tak sanggup dan menggeser layar itu sepenuhnya. Dan kemaluan itu hilang.

Reaksinya itu bukanlah sebuah reaksi kemarahan. Jelas geramnya tak timbul, bahkan ia sama sekali tak merasa dilecehkan, sebab ia pengen lihat lagi kemaluan itu. Reaksi yang ditimbulkannya agaknya serupa remaja polos yang kali pertama mengenal seks. Tampak malu-malu tetapi mau mencoba lebih jauh.

Kemudian satu pesan masuk membuatnya lebih tercengang lagi:

“Besar gak, Ustadzah? Lebih besar mana daripada suami?”

Sesungguhnya ia ingin mengumpat kepada Tukang Galon itu. Meneriakinya dengan nama-nama hewan atau nama-nama Jin. Tetapi ia tidak bisa. Tubuhnya melawan. Alam bawah sadarnya menginginkan pembicaraan yang cabul dan intens. Terlihat bagaimana ia merapatkan kedua pahanya, agar kemaluannya terjepit dan sensasi geli ia rasakan; bagaimana ia meremas gamisnya dengan remasan kuat seolah-olah membayang pemuda itu tengah menggerayangi tubuhnya dengan sesuka hati.

“Saya ke rumah ya? Ustadzah?”

Ia menelan ludah. Sedari tadi ia tidak bergerak duduknya. Pemuda itu tengah menuju rumahnya. Berbayang dalam otaknya bahwa Pemuda itu akan menunjukan kemaluan berbulunya lagi, tetapi kali ini secara nyata, yang bisa ia sentuh atau dengan sedikit keberanian bisa ia masukan ke dalam mulutnya. Kemudian ia tersadar dari renungannya. Tetapi ia tak membalas pesan Darto. Tak sama sekali. Adalah bingung sekaligus bimbang dalam dirinya. Norma agama melarangnya. Tetapi kebutuhan biologis—tubuhnya jelas menginginkan itu. Ustadzah Alisha berdoa sungguh-sungguh agar Tuhan menjaga kehormatannya. Tetapi bagaimana?

Sekonyong akhirnya, dari arah pintu, Darto datang dengan senyum simpul sambil masuk tanpa izin—ia meletakan Galon dan kemudian mendekat. Ustadzah Alisha melihat langkah kaki itu, segera merapatkan tubuhnya ke sudut Sofa. Kemudian dirasainya seseorang duduk di sampingnya. Tubuhnya kembali menegang. Salah tingkah ia membenarkan posisi duduknya dan berdehem.


“Ee, saya rasa, Darto, eh…” Kalimatnya terputus-putus.

Ustadzah Alisha menemukan pundaknya diendus-endus. Tetapi ia masih diam. Bahkan ketika endusan itu masuk lebih jauh. Ia bergeming.

Sekonyong ia berdiri tetapi Darto langsung menarik tangannya, membuat tubuhnya terlempar sedekat mungkin dengan pemuda itu. Membuat pandangan mereka saling bertemu. Ustadzah Alisha menemukan dirinya mematung dalam lingkar tangan pemuda itu. Tubuh mereka begitu dekat. Bahkan deruh nafas mereka terdengar satu sama lain. Aroma rokok tembakau yang menguar dari mulut Darto tercium. Ustadzah Alisha baru kali ini mencium aroma seperti itu. Yang jelas ia bisa merasakan kemaluannya berdenyut dan dalam jarak seperti ini, ia tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Darto menyaksikan bagaimana perempuan beranak satu itu seolah-olah menerima diperlakukan tak senonoh. Sebab bagaimana tidak, Bahkan ia telah menyingkap gamisnya setinggi paha. Sehingga betis putihnya terlihat dan diusap-usapnya. Darto begitu senang mendapati Ustadzah Alisha yang malu-malu, mendorong dadanya dengan ke dua tangan mungil itu. Tetapi jelas itu bukan sebuah penolakan, melainkan sebatas menjaga kehormatan. Kemudian Darto mulai bersikap nakal. Jemarinya masuk lebih dalam. Dan ketika ia mendapati kemaluan Ustadzah Alisha berlendir, ia tarik jemarinya, menunjukan lendir kuning berbau itu ke depan wajah perempuan beranak satu itu.

“Oho, Ustadzah bisa juga becek.” Darto Menyeringai cabul. Kemudian sekonyong ia berdiri setelah menyandarkan tubuh Ustadzah Alisha ke sofa. Ia tersenyum. “Lain kali aja, Ustadzah. Saya mau lanjut anter galon lagi.” Kemudian ia keluarkan ponselnya. Menarik gamis Ustadzah Alisha setinggi perut. Perempuan itu berusaha menutupi area terlarangnya. Tetapi Darto dengan sigap mengarahkan ponselnya ke bawah, mendapatkan potret jelas celana dalam berwarna Putih yang kuyup oleh lendir. Dan tanpa rasa bersalah ia meninggalkan Ustadzah Alisha.

***​

Pukul sepuluh lewat empat puluh, ia menjemput si Kecil Nana. Kemudian mereka bersinggah di Taman tak jauh dari Sekolah si kecil. Menemani si kecil bermain di sana; berlarian, melompat-lompat. Sementara Ustadzah Alisha mengawasinya dari suatu jarak. Pikirannya masih berada di rumahnya, ketika Darto memperlakukannya. Ia menyesali dirinya sendiri sebab tidak bisa memberikan penolakan. Tubuhnya ketika itu, jelas menerima segala sentuhan. Bahkan ketika jemari Darto berpelesirr di pahanya dan bergerak dengan teratur hingga menyentuh kemaluannya dari balik celana dalam, sesungguhnya ia mau mendesah. Pada saat itu ia memejamkan mata seolah-olah membiarkan Tukang Galon itu untuk menelusuri seluruh tubuhnya; mengobrak-abriknya; memetakan setiap tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan yang sensual.

Ustadzah Alisha merapatkan kedua kakinya; membayangkannya membuatnya sungguh terangsang. Dengan lakon perempuan malu-malu ia membenarkan jilbabnya dan gamisnya, lalu memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Sementara Si Kecil Nana masih asyik bermain perosotan, sendirian.

Si Kecil tampak tidak tahu bahwa Uminya mengalami hari yang buruk—atau baik. Ia hanya tau bermain, anak kecil itu. Barangkali nanti Uminya akan memberinya seorang adik untuk bisa diajak bermain. Si kecil kemudian menghampiri Uminya, dan meminta agar uminya menjaganya sementara ia mau terjun dari perosotan.

Ustadzah Alisha tersenyum. Dan ketika si kecil merosot ia tangkap dengan sempurna. Lalu berulang-ulang si kecil terjun. Berulang-ulang pula ia tangkap. Beberapa anak-anak yang lain terlihat bersama orang tua mereka, bermain jungkat-jungkit.

Kemudian setelah bermain, ibu dan anak itu duduk di satu bangku. Mereka memberi makan merpati dengan roti yang dibeli sewaktu di perjalanan. Melihat segerombolan merpati itu itu mematuk-matuk dan mendekat-dekat, Tampak si kecil menyukai burung-burung itu sehingga dengan langkah pendeknya ia mengejar mereka; ingin membawa mereka ke dalam pangkuannya, meskipun mereka terbang seketika.

Masih dalam lamunan, Ustadzah Alisha itu. Bahkan ia tidak membuka ponselnya sedari tadi. Sangka-sangka nantinya Tukang Galon itu akan menggodanya lagi atau lebih buruk akan datang ke rumahnya dan lebih buruk lagi…seketika ia bergidik ngeri. Menggeleng-geleng tak karuan. Tetapi kemaluannya perlahan mengeluarkan lendir. Sehingga posisi duduknya terasa tak nyaman; ia menggerakan pantatnya kanan-kiri.


“Umi, Nana mau Es Krim!” Si Kecil segera saja berlari menuju abang-abang Es Krim di ujung taman. Mendapati Uminya masih di tempat, berseru dirinya, “Umi! Ayo! Umi!”

Ia masih becek. Kalau saja ia berdiri, lendir kemaluannya akan mengalir ke pahanya. Ia terlalu sensitif untuk berhadapan dengan seorang pria. Apa yang dilakukan Darto membuat berahinya masih berlanjut. Tetapi pada akhirnya ia mengikuti si kecil Nana sambil membenarkan gamisnya. Dan dalam satu gerakan malu-malu ia menekuk pantatnya ke belakang, berharap agar celana dalamnya menempat di kemaluannya.

Si kecil tampak girang betul mengambil Es Krimnya, lalu menjilatnya. Ustadzah Alisha merasa bahwa Abang-abang Es Krim sedari tadi memperhatikan lekuk tubuhnya. Membuatnya merasa gelisah dan tak nyaman. Bahkan ketika Abang-abang es krim memberikan uang kembalian, Ustadzah Alisha merasakan jarinya disentuh. Sehingga membuatnya buru-buru menarik tangan si kecil agar kembali ke tempat awal.

Akan tetapi, bibir kemaluannya kembali mengeluarkan lendir bagaikan balon penuh air yang pecah, lendir itu berserakan di pahanya. Ia mau mengganti celana dalamnya dan gamisnya, serta mensucikan dirinya kembali. Maka ia ajak si Kecil Nana pulang. Meskipun agak susah sebab Si Kecil Masih mau menangkap burung-burung merpati.

***​
Sepanjang hari Ustadzah Alisha tak membuka ponselnya. Pastilah jamaahnya mengirim ribuan pesan curhat atau menanyakan kajian berikutnya. Aneh. Ketika pada saat ini, kepada siapa ia akan mencurahkan apa yang ia alami. Apakah pada Tuhannya? Mengatakan bahwa ia terangsang oleh seorang Tukang Galon dan kemaluannya mengeluarkan lendir kuning? Lalu apa Tuhannya akan sekonyong berkata: Lakukan!

Sejak kecil ia selalu dicekoki perihal agama. Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas—Ingat! Ia Sarjana Pendidikan Agama Islam—ia dikelilingi lingkungan yang agamis. Yang bahkan untuk melakukan apapun mesti ada dalil yang sah. Tentu saja berpuluh tahun menjalani hidup seperti itu, membuat Ustadzah Alisha merasakan keganjilan ketika mendapati dirinya begini.

Sehabis melaksanakan Sholat Isya —bahkan ketika ia memejamkan mata selagi Sembhayang—kemaluan berbulu lebat punya Darto sekonyong timbul. Seharian ini kemaluan itu dan bagaimana jemari Darto menyentuhnya, memenuhi alam pikirannya. Sehingga ia tak tahu harus bertindak apa. Cenderung diam dan merenung perempuan alim itu.

Ketika Suaminya bermain menyusun Lego dengan Si Kecil Nana, Ustadzah Alisha tak tertarik untuk ikut bergabung. Pikirannya dan seluruh alam semestanya seolah-olah ditarik oleh suatu gaya yang kuat: berahi. Bahkan pada saat ia berdongeng Si Kecil, ia sempat keliru menamai salah satu buaya dengan nama Darto. Untung saja putrinya tak mengira apa-apa.

Pukul sebelas malam ia tak bisa tidur. Dan seperti biasa ia mengendap-endap keluar kamar. Di ruang tamu ia tatap layar ponselnya lama-lama sambil memejamkan mata. Ia masih penuh ragu untuk membuka ponselnya. Masih dalam ketidakyakinan perihal nantinya apa yang akan terjadi. Tetapi kemudian ia hidupkan layar itu dengan deruh nafas membuncah, matanya terbuka. Jarinya bergetar. Penuh ragu. Diketuknya nomer Darto.

Bagaikan tersengat arus listrik, pantat Ustadzah Alisha melompat kecil saat dilihatnya Tukang Galon itu mengirim satu potret yang diambilnya pagi tadi. Dipotret itu terlihat jelas celana dalamnya banjir oleh cairan sehingga beberapa helai bulu kemaluannya terlihat saling tumpuk—ia lupa bercukur—dan kedua pahanya terbuka lebar.

Darto Menulis: “Mungkin lain kali, saya bisa masukin jemari saya di sana, Ustadzah.” Darto mengirim satu pesan, dikirim pukul sembilan belas dua puluh.

Ustadzah Alisha tentu saja merasa dilecehkan oleh sikap Darto yang demikian. Andaikata Darto melakukan itu—agak malu ia bergumam: Memasukan jarinya. Ia akan lekas menepuk kepalanya dengan apapun yang ada di rumahnya. Ia bertekad. Berkata kepada dirinya sendiri, mungkin tadi ia tak berdaya, tetapi lain kali ia akan melawan. Ia merasakan bahwa kesalehannya telah kembali. Segenap jiwa ia menulis pesan balasan:

“Atas apa yang terjadi tadi pagi, Darto! Saya tidak bisa mentoleransi lagi. Kamu bertindak berlebihan. Dan saya harap, mulai sekarang kamu tidak melanggar batas-batas. Saya sudah berkeluarga, Darto!”

Ia kirim penuh bangga sambil menghela nafas.

Balasan berikutnya muncul dari darto: “Ah, Ustadzah. Mulutnya aja begitu. Tetapi memeknya, kok, becek? Kalau Ustadzah menolak. Seharusnya Ustadzah berteriak dari awal. Tetapi ini, kok, engga? Oho, apakah Ustadzah menikmati? Oh, ya, bahkan ketika saya mau pulang. Wajah Ustadzah terlihat kecewa. Tidak bisakah kita saling jujur, Ustadzah? Nanti bakal saya bikin enak lagi. Janji!”

“Saya tidak melawan bukan berarti saya menikmati, Darto. Saya tidak bisa memproses apa yang terjadi. Oleh karena itu saya diam. Tetapi kalau kamu beranggapan saya menikmati? Salah betul kamu Darto! Saya bukan perempuan seperti itu. Alangkah baiknya kamu menjauh dan tidak menghubungi saya lagi! Saya mohon, Darto!”

Darto mengetik cukup lama. Membuat Ustadzah Alisha yang sedari tadi memperhatikan layar, gereget tak karuan. Menanti-nanti.

“Bagaimana kalau kita saling jujur, Ustadzah? Dimulai dari saya?”

Ustadzah Alisha merasa tertarik untuk sesaat. Tetapi ia merasa ini jebakan Tukang Galon itu. Ia membalas:

“Sudahlah, Darto. Berhenti hubungi saya.”

Tetapi Darto tidak memperdulikan itu. Ia memulai pengakuan terlebih dahulu:

“Saya tertarik dengan Ustadzah sudah lama. Saya tidak bohong. Mungkin kira-kira pada saat saya berumur 17. Ketika itu saya melihat Ustadzah sering ke Masjid. Tetapi belum mengisi ceramah. Dari situ saya mulai sering lihat-lihat Ustadzah dari tempat saya bekerja ketika Ustadzah sehabis dari Masjid.

Ketertarikan itu terus berlanjut. Ketika saya mengantar Galon ke rumah Ustadzah, saya sering curi pandang. Gak bisa saya pungkiri bahwa Ustadzah memiliki wajah yang teduh dan lembut. Bahkan cara berpakain Ustadzah membuat saya… sange. Maksud saya, saya suka melihat Ustadzah berpakain tertutup dan itu membuat saya penasaran. Saya pernah berfikir bagaimana bentuk tubuh Ustadzah? Ya, pikiran nakal begitu, Ustadzah.

Tetapi lebih daripada itu, Ustadzah memiliki wajah yang cantik. Bola mata yang besar bagaikan bidadara—saya tahu sewaktu diajarkan mengaji dulu—katanya bidadari punya mata besar. Oho, saya pikir adalah Ustadzah. Kemudian, selang beberapa lama, saya hanya mengikuti naluri saya, bahwa saya harus mendekati Ustadzah. Meskipun ustadzah sudah memiliki anak dan suami. Toh, lagian saya tak peduli.”

Darto tak membiarkan kalimatnya terbalas, ia mengirim pesan lagi:

“Saya ini tak sekolah Ustadzah. Tak tamat. Tidak punya juga pekerjaan yang layak. Apalah saya dibandingkan suami Ustadzah. Saya hanya batu kerikil yang mudah untuk di tendang. Saya tidak pernah punya pacar. Berahi saya hanya dituntaskan dengan tangan. Sewaktu saya melakukan tindakan tempo pagi tadi.

Saya memberanikan diri, dan saya sudah siap jika sesungguhnya Ustadzah berteriak. Tetapi ketika Ustadzah menikmati. Saya masih punya harapan untuk bersama Ustadzah. Saya sering membayangkan tubuh telanjang Ustadzah.

Ustadzah yang binal kemudian terengah-engah bagaikan binatang. Sekejap saya berfikir mungkin khayalan saya akan jadi kenyataan. Demikian kejujuran saya. Sekarang giliran Ustadzah. Satu pertanyaan saya: Ustadzah menikmati apa yang saya lakukan tempo hari?”

Ustadzah Alisha membaca hingga habis dan mendapati dirinya sendiri terpesona akan kejujuran itu. Bahkan kalimat-kalimat vulgar dari Darto dianggapnya sebagai kalimat puitis. Untuk kesekian kalinya dirasainya debur ombak di jantungnya, serta kepak-kepak burung camar di perutnya. Untuk sesaat ia mau jujur. Ia mau bercerita tentang apa yang ia alami tanpa satu kebohongan. Demikian ia menulis, sejujurnya:

“Darto, saya berasal dari keluarga yang agamis. Sedari kecil kerap lah saya diajarkan untuk melakukan ini dan itu, berdasarkan niat jahat dan buruk. Sewaktu saya kecil, saya sudah khatam Quran. Sewaktu Sekolah Menengah Atas saya menang berbagai perlombaan tingkat Madrasah. Saya selalu unggul dalam pemahaman agama. Dalil, teologi, dan beberapa hal lainnya.

Ah, kamu tidak tamat sekolah, Darto. Maka saya akan sederhanakan bahasa saya. Saya selalu terikat oleh hal-hal yang bersifat Ketuhanan. Mungkin kamu menyangka kehidupan saya ini penuh kurungan. Tetapi kamu salah, Darto. Tidak. Saya bersyukur atas orang tua saya yang mengajari saya agama dan adab dan moral. Tetapi semenjak kamu datang dan menggoda saya, saya perlahan menjadi ragu atas diri saya sendiri.

Ketika kamu mengirim foto kemaluan kamu, bahkan ketika saya Sembahyang, saya memikirkan itu. Betapa berdosanya saya, Darto? Dan kamu harus bertanggung jawab soal itu! Kemudian Darto, menjawab pertanyaan kamu. Apakah saya menikmati? Ya, saya menikmati itu. Meskipun saya menolak untuk mengakui, tetapi tubuh saya merespon dengan cara sebaliknya. Saya hanya menolak untuk tidak dianggap perempuan hina dan murahan. Tetapi, Darto, meskipun saya menikmati, bukan berarti saya mau melakukan hal lebih jauh lagi. Apakah kamu mengerti?”

Ia hembuskan nafas dengan teratur dan sekilas tersenyum. Segala hal yang bertumpuk di dadanya kini telah pecah. Tetapi ia masih ingin bercakap-cakap dengan Darto. Ada satu ketertarikan yang membuatnya ingin mendengar kejujuran dari tukang Galon Itu.

Tak lama kemudian, Darto menulis:

“Saya menghargai keputusan Ustadzah. Tetapi saya rasa saya tidak bisa berhenti untuk mendekati Ustadzah. Saya merasa kita sudah mempunyai keterkaitan satu sama lain. Dan…saya akan membuat Ustadzah merasa lebih puas lagi. Besok, saya datang lagi. Saya harap Ustadzah tidak menggunakan celana dalam.”

Begitu Ustadzah Alisha hendak mau membalas. Darto terlebih dahulu mengirim pesan:

“Sampai jumpa besok pagi, Ustadzah.”

***​

Pagi itu gemuruh datang tak tertahan, Ustadzah Alisha kepikiran kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan Tukang Galon itu. Fokusnya seolah-olah ditarik paksa terhadap apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Bahkan ketika ia berada di meja makan sewaktu sarapan, tak dihiraukan suami dan putrinya. Membuat Si Kecil Nana merengek penuh sebal, sebelum ditenangkan Abinya bahwa Uminya lagi sibuk barangkali.

Selepas suaminya dan anaknya pergi, Ustadzah Alisha berdiri diri di tempat tidurnya untuk waktu yang cukup lama. Ia meremas sprei kuat-kuat, giginya menggigit bibir. Sesungguhnya ia merasa takut. Tetapi tak pula ia menghubungi atau mengirim pesan ke Darto agar tidak berkunjung ke rumahnya. Dan itu seolah-olah ia tak menolak.

Ia bangkit dan keluar dari kamarnya. Berangsur-asur perlahan ia mengintip dari tembok ke arah pintu. Barangkali Darto muncul sekonyong dari sana dan langsung menyergapnya bagaikan harimau memangsa kijang.

Kemudian ia berhati-hati menuju dapur, menghela nafas sejenak, lalu duduk di meja makan. Ia tak bisa merasa tenang. Iapun bangkit dan bolak-bolak tak tentu arah; ke kamar, ruang tamu, dapur, sebelum kemudian ia kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa.

Ia tengah mengenakan Gamis katun warna biru pucat membingkai tubuhnya tanpa lekuk, jatuh longgar sampai mata ka

ki. Hijab segi empat ia lilit rapi, menutupi rambut dan dada, menyisakan wajah bersih tanpa banyak rias. Bibirnya tampak tak dipoles gincu, pink menggoda dan kenyal.

Untuk waktu yang lama Ustadzah Alisha menatap ponselnya. Semakin bertambahnya waktu, semakin dirasainya sengat tak karuan di sekujur tubuh, sampai pucaknya ketika terdengar pintu terbuka tanpa diikuti salam. Menyembul seorang pemuda dibersamai langkah yang menimbulkan decit dari sandal jepitnya, dan tersenyum mendekat sambil membenarkan rambutnya yang basah.

Bergeming dan tak tahu berbuat apa, Ustadzah Alisha itu. Menyaksikan perlahan Tukang Galon itu mendekat ke arahnya. Semakin dekat, semakin pula jantungnya kian mau melompat. Ia telah berusaha untuk bangkit, akan tetapi kakinya terasa tertancap ke bumi. Seolah-olah tubuhnya tersihir dengan kehadiran Darto, yang kini telah mengambil duduk di sampingnya.

Ustadzah Alisha menunduk. Bahunya menempel dengan pemuda itu. Ia menggeser tubuhnya sedikit hingga menyentuh pembatas sofa. Tubuhnya ia rapatkan ke sana, kakinya ia tarik ke samping dua-duanya, mempertahankan dirinya sebisa mungkin. Tetapi kenapa ia tak lari kalau begitu? Ia pun tak tahu.

“Ustadzah bisa kabur sekarang kalau mau. ” Darto mendekat dan berbisik. Sehingga membuat Ustadzah itu meremang bulu kuduknya. Kemudian Darto secara hati-hati menarik tangan Ustadzah Alisha, mengelus punggung tangannya, kemudian mengecupnya secara perlahan dan singkat. Setelah itu mereka bertukar pandang.

Darto bisa merasakan kekhawatiran di wajah Ustadzah Alisha yang tampak pucat dan sedikit ketakutan. Tetapi Darto terlampau mahir untuk membikin perempuan, barangkali sekelas Ustadzah bertekuk lutut. Demikian kemudian ia berkata:

“Ustadzah pakai celana dalam atau engga?”

Darto tampak mau tertawa kecil melihat Ustadzah Alisha menggeleng bagaikan anak kecil yang penurut. Satu tangannya ia daratkan di paha perempuan itu, meremasnya, kemudian mengusapnya dengan lembut. Ketika ia mendapati Ustadzah Alisha membuang muka, sekonyong tangannya menarik wajah itu sehingga mereka saling bertatap, dan Darto bisa lihat mata bulatnya dan bibirnya yang kenyal, yang mau ia cium saat itu juga. Tetapi ia tak mau buru-buru. Demikian setelahnya ia menjauhkan posisi duduknya, merapikan Gamis Ustadzah Alisha yang sedikit acak-acak.

Ustadzah Alisha tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya berdiam sedari tadi. Tampak bagaikan keledai bodoh.

“Saya haus, Ustadzah. Boleh dibuatkan minum?” Darto berkata sambil tersenyum.

Ustadzah Alisha yang masih dalam kelimpungan tampak celingak-celinguk. Ia masih bergeming dan menunduk. Kemudian agak malu ia bertanya: “Mau minum apa?” Kemudian ia bangkit dan berjalan agak terbata-bata. Menuju dapur dan membuatkan dua Es Jeruk. Ketika ia menuangkan air dan es batu ke dalam gelas, ia sebisa mungkin mengatur nafasnya. Jelas ini adalah dosa, pikirnya, tetapi kenapa ia tak kabur di situasi demikian. Ia bertanya-tanya terhadap dirinya sendiri.

Ia kembali menaruh dua Es Jeruk di atas meja dan duduk di tempat yang sama. Telapak kakinya mengusap punggung kaki yang satunya, sementara jemari dari kedua tangannya saling bertaut satu sama lain. Berkali-kali ia menelan ludah atas situasi ini. Kemudian, sedikit keberanian ia berkata, pelan dan nyaris tak terdengar:

“Saya rasa ini salah, Darto. Saya sudah memiliki anak dan suami.” Sekilas ia melihat Darto yang melihatnya, sontak saja ia memalingkan wajah. Ngocoks.com

Darto menjawab, “Saya tahu, Ustadzah. Tetapi kita sekarang hanya berdua. Nanggung, kan, kalau gak ngapa-ngapain?” Darto bangkit dan sekonyong membuka celananya sehingga menyembul sudah kemaluannya yang penuh semak belukar itu.

Menyaksikan itu tentu saja Ustadzah Alisha terperanjat, bokongnya bahkan melompat, dan posisi duduknya bergeser ke belakang. Bagaimana tidak, sebab kini kemaluan itu terlihat jelas, mancung ke atas bagaikan busur panah. Semakin gugup Ustadzah Alisha ketika Darto menggeser tubuhnya, dan kemudian menarik tangannya untuk menyentuh kemaluan itu. Meskipun memberikan perlawan, pada Akhirnya tersentuhlah kemaluan itu, yang terasa bagaikan memegang ular.

Ustadzah Alisha keburu menarik tangannya sebab merasa geli memegang penis Darto. Tetapi Darto semakin mendekatkan tubuhnya. Sehingga Ustadzah Alisha bisa mencium keringat Tukang Galon itu. Ia masih menunduk sampai kemudian Darto menarik pergelangan pinggangnya dan memutar tubuhnya sehingga ia bisa melihat dari dekat wajah Tukang Galon itu yang tengah dilanda berahi. Lekas saja Ustadzah Alisha memejamkan mata dan menarik tubuhnya agak menjauh. Tetapi perlawanan itu tak ubahnya formalitas biasa.

Darto kemudian dengan lembut menjetikan telunjuknya ke pipi Ustadzah Alisha, membikin lingkaran di sana, sebelum ia beralih ke bibir, berkeliling merasakan kekenyalannya, lalu ia mencubit hidung perempuan alim itu dengan gemas sambil tertawa kecil, tampak puas melihat tingkah Ustadzah Alisha yang masih malu-malu tapi mau.

Kemudian ia menarik satu kaki perempuan itu agar bertopang di atas pahanya, sehingga dengan mudah jemarinya bisa mengelus betis putih itu yang serupa angsa. Kemudian, berangsur-angsur lama, Darto mendekatkan hidungnya ke leher Ustadzah Alisha, mengendus-endus, lalu turun ke area ketiak, meskipun tak bisa ia angkat tangan perempuan alim itu sebab masih memberikan perlawanan.

Kini tubuhnya tengah di jelajahi, Ustadzah Alisha itu. Ia bisa merasakan setiap tubuhnya di sentuh-sentuh, bahkan pada area kemaluannya dirasainya jejari Tukang Galon itu melingkar di pahanya. Untung saja ia langsung menutup mulutnya ketika kemaluannya terasa di colok-colok, sehingga desahnya tak sanggup keluar.

Akan tetapi ia melakukan pemberontakan yang sia-sia, kedua tangannya berusaha mengeluarkan jejari Darto yang menarik cangcutnya dan berusaha memasukan jarinya ke dalam lubang kemaluannya. Meskipun jari itu sudah lebih dulu masuk ke dalam vaginanya. Agaknya itu jari kelingking. Sebab dimasuki jari kemaluanya, Ustadzah Alisha sekonyong terhuyung kecil ke atas dibersamai lenguh kecil yang pada akhirnya terlepas..

“Nah, Kan, Nikmatin aja, Ustadzah. Mending sekarang Ustadzah kocok kemaluanya saya.” Darto melingkarkan jemari Ustadzah Alisha ke batang penisnya. Kemudian ia melenguh pelan. “Kocok pelan-pelan, Ustadzah.”

Agak malu, Ustadzah Alisha berkata, “Saya belum pernah, Darto.” Lalu ia menjerit ketika vaginya di colok lagi.. “Ah… Udah, ya, Darto? Nanti ada yang lihat.”

Ustadzah Alisha sekonyong terkejut ketika tubuhnya terangkat naik dibersamai Darto yang bangkit. Tampak malu ia berusaha melepaskan gendongan Darto yang entah mau membawanya ke mana.

“Kamar Ustadzah dan suami di mana?” Darto bertanya.

“Saya mohon, Darto. Jangan, ya?”

“Ustadzah mau di sini atau di tempat yang lebih aman? Kalau di sini, bagaimana seandainya ada yang lihat?”

Cerita Sex Rumah Kami Surga Kami

Itu adalah pilihan yang berujung pada Darto menyetubuhinya. Tetapi Ustadzah Alisha yang pada saat itu tak mempunyai pilihan lain—barangkali—berkata dengan suara pasrah dan menenggelamkan wajahnya ke dada Darto:

“Terus sedikit dari dapur. Nanti belok kanan, Kamar pertama dari ujung.”

Sementara di luar, Zubaidah tengah tersengal-sengal menutup mulut. Sedari tadi ia menyaksikan—bersembunyi di belakang tembok sambil mencuri pandang dari celah gorden—betapa perempuan yang ia hormati diperlakukan demikian cabul oleh Tukang Galon. Untuk sesaat Zubaidah merasa dirinya dibohongi atas kezaliman perempuan itu. Dan di lain sisi ia tak mengerti kenapa seorang Ustadzah bisa-bisanya seperti itu. Kemudian ia memegangi kemaluannya. Dan ini yang paling sulit ia mengerti bahwa ia becek menyaksikan itu.

Post a Comment for "Ustadzah Alisha"